Setelah menjadi
orang tua ada sebuah pelajaran berharga yang didapat. Pelajaran dan
pembelajaran yang nggak bakalan ditemuin dalam kurikulum sekolah manapun. Belajar menerjemahkan bagaimana cara Tuhan
berinteraksi dengan hamba-hambanya, walaupun masih sangat sedikit;
Aku
merenungi arti kata “Ridha Tuhan adapada ridha orang tua.” dan menurutku ayat
itu merupakan refleksi bahwa Tuhan seperti orang tua (dan jauh lebih besar dan
mulia daripada sekedar orang tua) yang selalu mengupayakan dan menginginkan
yang terbaik untuk anaknya dan semuanya berlandaskan pada kasih sayang tapi
bukan berarti mengikuti semua keinginan anaknya. Tuhanpun memperlakukan hambanya dengan caranya
sendiri untuk menaikan derajat seorang hamba. Sebuah cara yang kadang tak
dipahami.
Sebagai
orang tua, aku berani melakukan apapun dan berupaya sebesar apapun untuk
membahagiakan Raja tapi bukan untuk menjadikannya bocah manja.
Seperti
itu juga Tuhan, ia pasti ingin hambanya menjadi pribadi yang terbaik, karenanya
Tuhan juga tidak akan memanjakan kita dengan segala kenikmatan. Karena yang
nikmat belum tentu membawa pada yang baik.
Karena
aku sayang Raja dan ingin dia tumbuh sehat, makanya aku melarang Raja jajan permen atau
makanan tak sehat lainnya. Raja nggak tau dan nggak mau tau bahaya permen buat
gigi dan kesehatannya yang dia tau dia sangat pingin makan itu!
Karena
Tuhan sayang hambanya, Tuhan tidak mengabulkan semua doa kita. Karena kita
sangat tahu apa yang sangat kita inginkan sedangkan Tuhan lebih tau apa yang kita
butuhkan.
Karena
aku ingin Raja mandiri, aku meninggalkan Raja dan membiarkan dirinya berbaur
seorang diri di Playgroup sementara aku menunggu dan memperhatikannya dari
jendela tanpa disadarinya.
Karena
Tuhan ingin kita lebih tegar dan berdiri tegak pada kaki kita sendiri,
karenanya saat masalah besar menerpa ia tak lantas turun tangan, ia tampak acuh
membiarkan kita menemukan jalan keluar
tapi ia tidak pernah pergi ia ada dan tetap mengawasi.
Karena
aku ingin Raja tangguh, saat Raja tersungkur karena berlari terlalu kencang dan
ceroboh aku tak lantas menghampiri dengan wajah panik walaupun jantung serasa
copot tapi memberinya semangat untuk bangkit lagi dan meyakinkannya bahwa ‘ia
baik-baik saja’.
Karena
Tuhan ingin kita mulia, ia menciptakan roda
kehidupan yang mengantarkan kita pada titik terendah. Karena pada posisi itu
hati kita merendah, mata batin lebih peka. Kita lebih sadar bahwa kita makhluk
yang bergantung sepenuhnya pada Khalik. Maka keangkuhan lebur oleh sujud
panjang.
Karena
aku ingin Raja menjadi manusia yang penuh tanggung jawab. Walau masih berusia belasan
bulan aku membimbing Raja membersihkan susu yang ia tumpahkan dilantai.
Karena
Tuhan ingin kita lebih bertanggung jawab Tuhan menjanjikan adanya surga dan
neraka, pahala dan dosa. Agar kita mengerti bahwa tak ada satupun perbuatan
tanpa konsekuensi.
Masih
banyak pelajaran lainnya dari peran Tuhan-orang tua yang perlu untuk direnungi
dan rohani masih merangkak mencari arti… Semoga tetap selalu berprasangka baik
atas apa yang Tuhan gariskan pada kehidupan kita ini,