Senin, 30 Juli 2012

SEPERTI TUHAN


Setelah menjadi orang tua ada sebuah pelajaran berharga yang didapat. Pelajaran dan pembelajaran yang nggak bakalan ditemuin dalam kurikulum sekolah manapun.  Belajar menerjemahkan bagaimana cara Tuhan berinteraksi dengan hamba-hambanya, walaupun masih sangat sedikit;
Aku merenungi arti kata “Ridha Tuhan adapada ridha orang tua.” dan menurutku ayat itu merupakan refleksi bahwa Tuhan seperti orang tua (dan jauh lebih besar dan mulia daripada sekedar orang tua) yang selalu mengupayakan dan menginginkan yang terbaik untuk anaknya dan semuanya berlandaskan pada kasih sayang tapi bukan berarti mengikuti semua keinginan anaknya.  Tuhanpun memperlakukan hambanya dengan caranya sendiri untuk menaikan derajat seorang hamba. Sebuah cara yang kadang tak dipahami.
            Sebagai orang tua, aku berani melakukan apapun dan berupaya sebesar apapun untuk membahagiakan Raja tapi bukan untuk menjadikannya bocah manja.
            Seperti itu juga Tuhan, ia pasti ingin hambanya menjadi pribadi yang terbaik, karenanya Tuhan juga tidak akan memanjakan kita dengan segala kenikmatan. Karena yang nikmat belum tentu membawa pada yang baik.
            Karena aku sayang Raja dan ingin dia tumbuh sehat,  makanya aku melarang Raja jajan permen atau makanan tak sehat lainnya. Raja nggak tau dan nggak mau tau bahaya permen buat gigi dan kesehatannya yang dia tau dia sangat pingin makan itu!
            Karena Tuhan sayang hambanya, Tuhan tidak mengabulkan semua doa kita. Karena kita sangat tahu apa yang sangat kita inginkan sedangkan Tuhan lebih tau apa yang kita butuhkan.
            Karena aku ingin Raja mandiri, aku meninggalkan Raja dan membiarkan dirinya berbaur seorang diri di Playgroup sementara aku menunggu dan memperhatikannya dari jendela tanpa disadarinya.
            Karena Tuhan ingin kita lebih tegar dan berdiri tegak pada kaki kita sendiri, karenanya saat masalah besar menerpa ia tak lantas turun tangan, ia tampak acuh membiarkan kita menemukan jalan keluar  tapi ia tidak pernah pergi ia ada dan tetap mengawasi.
            Karena aku ingin Raja tangguh, saat Raja tersungkur karena berlari terlalu kencang dan ceroboh aku tak lantas menghampiri dengan wajah panik walaupun jantung serasa copot tapi memberinya semangat untuk bangkit lagi dan meyakinkannya bahwa ‘ia baik-baik saja’.
            Karena Tuhan ingin kita mulia,  ia menciptakan roda kehidupan yang mengantarkan kita pada titik terendah. Karena pada posisi itu hati kita merendah, mata batin lebih peka. Kita lebih sadar bahwa kita makhluk yang bergantung sepenuhnya pada Khalik. Maka keangkuhan lebur oleh sujud panjang.
            Karena aku ingin Raja menjadi manusia yang penuh tanggung jawab. Walau masih berusia belasan bulan aku membimbing Raja membersihkan susu yang ia tumpahkan dilantai.
            Karena Tuhan ingin kita lebih bertanggung jawab Tuhan menjanjikan adanya surga dan neraka, pahala dan dosa. Agar kita mengerti bahwa tak ada satupun perbuatan tanpa konsekuensi.
            Masih banyak pelajaran lainnya dari peran Tuhan-orang tua yang perlu untuk direnungi dan rohani masih merangkak mencari arti… Semoga tetap selalu berprasangka baik atas apa yang Tuhan gariskan pada kehidupan kita ini,
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Haturnuhun ah komenna...